Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran_Koneksi antarmateri 3.1
3.1.a.9. Koneksi Antarmateri
Murdani_CGP Angkatan 2
Pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh
terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin
pembelajaran
Pendidikan haruslah memerdekakan kehidupan manusia adalah konsep
pendidikan KHD. Merdeka dari penjajahan sesuai dengan masa yang dialami KHD
maupun merdeka secara umum yaitu dari kebodohan dan keterbelakangan. Maka dalam
usaha pendidikan untuk memerdekakan kehidupan manusia maka dalam prosesnya pun
diminta dalam suasana merdeka pula yaitu pengajarannya. Merdeka yang dituju
tidak hanya merdeka fisik namun yang terpenting juga merdeka psikis (lahir
batin). Sehingga objek pengajaran dalam sudut pandang KHD tidak hanya akal atau
akademik akan tetapi semua ranah termasuk rasa dan karya (sikap dan
keterampilan) yang sehingga perangkat dan tujuan pengajaran mesti sesuai dengan
kebutuhan dan berguna bagi masyarakat yang menjadikan peserta didik bisa
menjadi manusia seutuhnya. Simpulannya adalah dalam menggapai tujuan/keadaan
yang merdeka maka diperlukan proses yang merdeka pula.
Pendidikan menurut Ki Hajar
Dewantara yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat
mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai
manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Anak-anak itu sebagai makhluk,
manusia, dan benda hidup, sehingga mereka hidup dan tumbuh menurut kodratnya
sendiri. Pendidikan menurut Ki Hajar
Dewantara yaitu agar pendidikan tidak membuang pokok kebudayaan
yang menjadikan asing dengan realita pada anak
didik. Pendidikan harus membuat manusia di Indonesia mempunyai sifat
peka dalam hal budi pekerti.
Trilogi kepemimpinanmu KHD Ing Ngarso Sung Tolodo, Ing Madyo
Mangun Karso, Tut Wuri Handayani akan selalu mengayomi dan tuntunan serta
arahannya mersembahkan untuk murid yang
dihormati demi cerdasnya cipta, rasa, karsa dan kehalusan budi pekerti.
Relevansi pemikiran KHD
dengan konteks pendidikan Indonesia saat ini adalah memprioritaskan
pembelajaran berpusat pada peserta didik dengan memberikan ruang gerak yang
merdeka sehingga membuka peluang ketercapaian kompetensi pada potensi yang
dimiliki dan sesuai kebutuhan hidup yang diperlukan. Sehingga dalam realisasi
pembelajaran seorang guru memberikan ruang gerak yang bisa mengeksplore diri
mereka sendiri oleh murid sesuai dengan bakat, minat, kesiapan maupun profilnya
yang difasilitasi oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran dengan
keputusan-keputusannya yang berpihak pada murid.
Nilai - nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip
yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan
Nilai itu sendiri, menurut Rokeach (dalam Hari,
Abdul H. 2015), merupakan keyakinan sebagai standar yang mengarahkan perbuatan
dan standar pengambilan keputusan terhadap objek atau situasi yang sifatnya
sangat spesifik.
Kehadiran nilai dalam diri seseorang dapat berfungsi
sebagai standar bagi seseorang dalam mengambil posisi khusus dalam suatu
masalah, sebagai bahan evaluasi dalam membuat keputusan, bahkan hingga
berfungsi sebagai motivasi dalam mengarahkan tingkah laku individu dalam
kehidupan sehari-hari. Peranan nilai sangat penting dalam kehidupan tingkah
laku sehari-hari, maka sangat penting bagi seorang guru untuk bisa memahami dan
menjiwai nilai-nilai dengan memperhatikan prinsip-prinsip yang diambil dalam
pengambilan keputusan. Adapun nilai-nilai seperti bertanggung jawab, religious,
percaya diri, kejujuran, mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak
pada murid dan lainnya Sedangkan prinsip-prinsip dalam pengambilan keputusan antara lain:
1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Nilai ini sendiri berkaitan erat dengan prinsip
dalam pengambilan keputusa. Nilai ini tentunya diharapkan menjadi pedoman
berperilaku untuk seorang guruk didampingi dengan 3 prinsip dalam pengambilan
keputusan. Sebab
suatu nilai sangat menentukan dalam mengarahkan perbuatan dan pengambilan keputusan.
Dan juga berfungsi sebagai bahan evaluasi dan motivasi dalam bertingkah
laku. Nilai dan prinsip tersebut akan mewarnai seorang guru dalam menjalankan perannya khususnya
pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.
Pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) dalam pengujian
pengambilan keputusan yang diambil.
Dalam mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran langkah
awal yang perlu dilakukan adalah memahami 3 (tiga) prinsip pengambilan
keputusan yaitu:
1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Selain itu, hal yang
penting dipahami sebagai langkah awal dalam mengambil keputusan adalah 4 (empat)
paradigma dilemma etika antar lain:
1. Individu lawan masyarakat (individual
vs community)
2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice
vs mercy)
3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs
loyalty)
4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)
Ketika suatu
keputusan akan diambil maka baiknya didiskusikan dalam bentuk kegiatan coaching
yag nantinya untuk memadukan tuntunan coach dengan paradigm serta prinsip
tersebut ataupun sebaliknya seorang cach mengcoaching coacheenya dengan tuntunan
TIRTA dan menggali paradigma maupun prinsip tersebut.
Selanjutnya hasil
kegiatan coaching akan diimplementasikan atau diuji dalam 9 (Sembilan) langkah
dalam mengambil dan menguji keputusan yang diambil sehingga membuahkan
keputusan yang tepat dan meyakinkan kebenarannya. adapun 9 langkah tersebut
antara lain:
1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan
2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi
3. Mengumpulkan Fakta-fakta yang relevan dengan situasi
4. Pengujian benar atau salah (publikasi)
5. Pengujian paradigma benar lawan salah (panutan atau idola)
6. Melakukan prinsip resolusi
7. Investigasi opsi trilema
8. Membuat keputusan
9. Merefleksikan
Pengambilan keputusan yang masih meragukan atau mengandung
pertanyaan-pertanyaan akan menjadi meyakinkan melalui kegiatan coaching sebab
telah melibatkan orang lain sebagai penguat tidak hanya diri sendiri walaupun
keputusan atau solusi ada atau muncul pada diri kita sendiri.
Studi kasus yang fokus pada masalah moral
atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.
Pentingnya kita memahami arti dilema etika dan bujukan moral sebab
sebagai seorang guru dijadikan studi kasus sebab sering kali menjumpai dua
kondisi tersebut yang bertentangan dengan nilai-nilai yang dianutnya. Dilemma
etika adalah suatu kondisi seseorang untuk memilih dua hal yang benar namun
berlawanan dan mesti dipilih salah satunya dalam waktu yang sama. Sedangkan
bujukan moral adalah suatu kondisi seseorang untuk memilih dua hal atara benar
dan salah yang mesti dipilih salah satunya dalam waktu yang sama. Saat kondisi
tersebutlah sangat diperlukannya kemampuan pengambilan keputusan yang tepat
dengan menggunakan 3 prinsip dan 4 paradigma serta 9 langkah pengujian
keputusan yang telah dicantumkan di bagian atas. Dengan berbagai kondisi
seorang guru baik terhadap para murid, teman sejawat maupun kepala sekolah
selaku pimpinan bahkan terhadap masyarakat dan keluarga sehingga membutuhkan
kemampuan dan langkah tepat dalam pengambilan keputusan.
Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang
positif, kondusif, aman dan nyaman.
Lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman merupakan
harapan ideal bagi setiap warga sekolah dan pemangku kebijakan atau take holder
lainnya demi pelayanan yang prima bagi murid sehingga tercipta kondisi
pembelajaran yang berpihak pada murid. Lingkungan kondusif tersebut akan bisa
tercipta dan terbentuk berawal dari pengambilan keputusan yang tepat baik oleh
guru sebagai pemimpin pembelajaran ataupun oleh kepala sekolah yang memiliki
kebijakan dapat dirasakan langsung oleh warga sekolah utamanya para murid.
Apabila dalam pengambilan keputusan dilandasi atas dasar
keberpihakan pada murid maka akan muncul ide-ide atau putusan yang mengarah dan
menjadikan murid merasa aman dan nyaman berada di sekolah baik saat
pembelajaran maupun luar kegiatan pembelajaran. Seperti menyusun “kesepakatan
kelas” yang digali dari usul, saran dan tanggapan serta perasaan murid
menjadikan kesepakatan kelas yang realistis dan ideal bagi murid kelas itu
sendiri. Contoh lain seperti putusan untuk pengadaan keran dan wastafel setiap
kelas menjadikan kelas dan sekolah rindang dan memfasilitasi kebutuhan murid
akan air seperti cuci tangan, menyiram bunga, mengepel kelas, kaca, digunakan
berwudhu dalam kegiatan imtaq dan sebagainya. Termasuk juga pengadaan meja
kursi beton di halaman tempat beristirahat dan makan minum para murid. Dari
uraian contoh pengambilan keputusan yang tepat tersebut benar bahwa akan
berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
kesulitan-kesulitan dilaksanakan di lingkungan
untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika
Selama ini kita mengambil suatu keputusan kadang kala hanya
memiliki satu alasan atau satu sudut pandang bahkan tidak memiliki tuntunan
yang jelas akan tetapi diputuskan begitu saja. Dan pada materi pengambilan
keputusan sebagai pemimpin pembelajaran khususnya kondisi dilemma etika maka
telah dapat dipahami dan memiliki arah atau tuntunan untuk mengambil suatu
keputusan. Adapun kesulitan-kesulitan di lingkungan untuk dilaksanakannya
pengambilan keputusan terhadap
kasus-kasus dilemma etika akan kembali kepada bagaimana memahami 4 paradigma, 3
prinsip dan 9 langkah. Di awal-awal perlu latihan dan bantuan teman sejawat
untuk mendampingi atau berdiskusi terutama pada implementai 9 langkah
pengujian, sedangkan pada 4 paradigma dan 3 prinsip bisa diukur oleh diri
sendiri.
Pengaruh pengambilan keputusan yang diambil dengan pengajaran yang memerdekakan
murid-murid
Pengambilan keputusan yang diambil akan sangat berpengaruh terhadap
pengajaran yang memerdekakan murid. Misalkan bagaimana seorang guru sebagai
pemimpin pembelajaran akan memutuskan materi ajar yang akan disuguhkan kepada
para murid dengan karakteristik yang beragam maka tentu akan memikirkan pemenuhan
karakteristik beragam tersebut dengan materi ajar yang beragam pula demikian
dengan proses dan produk yang diharapkan.jika hal tersebut dilaksanakan maka
guru sebagai pemimpin pembelajaran telah dapat memenuhi kebutuhan belajar murid
yang menjadikan murid merdeka dalam belajarnya. Namun sebaliknya jika
karakteristik murid seperti minat, bakat, kesiapan belajar dan profil murid
tidak sesuai dengan materi, proses dan produk pembelajaran yang dituju maka
murid akan merasakan ketidak nyamanan dalam belajar dan bertentangan dengan
konsep merdeka belajar.
Seorang pemimpin pembelajaran dalam
mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya
Setiap waktu yang dilalui murid akan bermakna lebih dari biasanya
jika seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran dapat membelajarkan muridnya
dengan penuh makna, bukan sekedar rutinitas ataupun pemenuhan jadwal. Untuk
membelajarkan murid untuk penuh makna diperlukan kemampuan mengambil keputusan
yang tepat oleh guru bagaimana menyusun perencanaan pembelajaran untuk mencapai
hasil belajar yang berdaya guna bagi murid.
Pembelajaran yang dirasakan murid dapat menjadikannya optimis dan
memberi motivasi bagi dirinya untuk menggali dan mengembangkan potensi yang
dimiliki sehingga akan berpengaruh besar bagi kehidupannya atau masa depan
murid. Memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada murid untuk
mengeksplore dirinya sehingga mengetahui kemampuan diri yang menjadikan dirinya
berkomitmen atas potensinya itu.
Kesimpulan akhir dari pembelajaran modul materi ini
dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya
Ki Hadjar Dewantara
dalam tulisannya menyebutkan bahwa “maksud pendidikan itu adalah menuntun
segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai
keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginyabaik sebagai manusia maupun
anggota masyarakat” maka memperhatikan materi modul ini adalah “Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin
Pembelajaran” merupakan kemampuan yang menjadi penentu
eksekusi atau implememntasi daripada materi modul sebelumnya khususnya di
kelas. Sebab, materi modul 1.1
(Refleksi Filosofi Pendidikan Indonesia
Ki Hadjar Dewantara) dan 1.3 (Visi Guru Penggerak) berorientasi pada anak-anak
sebagai murid tentang karakteristik dan bagaimana memperlakukannya . adapun
materi 1.2 (Nilai dan Peran Guru Penggerak) berorientasi pada bagaimana menjadi
manusia yang memiliki nilai dan peran
baik bagi guru dan khususnya murid. Sedangkan materi 1.4 (Budaya Positif)
mengarahkan pada bagaimana mencapai atau usaha untuk menjadi manusia yang
selamat dan bahagia. Dan dijawab oleh materi 2.1 (Memenuhi Kebutuhan Belajar
Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi ), 2.2 (Pembelajaran Sosial dan
Emosional), dan 2.3 (Coaching) yaitu dalam usaha mencapai manusia yang selamat
dan bahagia maka pembelajarannya disesuaikan dengan kodrat masing-masing murid
baik kodrat zaman maupun kodrat alamnya.
Terima kasih,
wassalam
Hebaat, semoga tulisan ini terus dikembangkan di ekosistem sekolah, lanjutkan..
BalasHapusTetap semangat, jangan kendor untuk perubahan yang positif 👍
BalasHapus