Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran_Aksi Nyata 3.1
3.1.a.10 Aksi
Nyata
Murdani, S.Pd._
CGP Angkatan 2_ Kab. Lombok Barat
Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran
“Putri, Ketua Kelas Santun yang Harus Mundur”
A. Fact
1. Latar Belakang tentang situasi yang dihadapi
Di awal tahun pembelajaran 2021-2022 SD Negeri 1 Gerung Utara bisa
menyelenggarakan pembelajaran tatap muka langsung di ruang kelas karena telah
mendapat ijin dari pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Barat seteleh melewati
monitoring dan evaluasi dari instansi terkait satuan tugas Covied-19 seperti 10
sekolah lainnya yang berada di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Kabupaten Lombok Barat dan berbeda dengan sekolah lainnya yang belum
mengantongi ijin tatap muka. Seperti pada tahun sebelumnya, saya sebagai wali
kelas selalu meminta untuk mengisi lembar biodata disertai photo kopi KK dan
Akta kelahiran untuk registerasi ulang sebagai binaan saya. Banyak manfaat yang
saya dapatkan dari lembar biodata tersebut selain sebagai validitasi peserta
didik yang berada di bawah tanggung jawab saya langsung, juga untuk mengetahui
minat, bakat, kesiapan belajar dan profil murid tersebut.
Hal baru yang saya lakukan adalah sesuai dengan amanat Modul 1.4
dan modul sebelum lainnya yaitu tentang Budaya Positif dan Kesepakatan Kelas
maka saya meminta setiap peserta didik untuk menulis harapan-harapan, usul
saran kepada guru dan sesame murid bahkan untuk sekolah seperti bagaimana
kondisi kelas bisa aman, nyaman dan menyenangkan. Dan yang terpenting
pembelajaran bisa berlangsung kondusif. Di antara usul saran dan harapan para
murid yang menjadi “Kesepakatan Kelas” adalah hadir di kelas tepat waktu. Dan khusus
bagi yang menjadi piket kebersihan hadir labih awal. Hadir tepat waktu menjadi
kesepakatan kelas karena akan memberikan dampak positif yang sangat besar
sepeti semua kegiatan di kelas bisa diikuti dengan sepenuhnya. Dan sebaliknya
jika hadir tidak tepat waktu atau terlambat akan memberikan dampak negative
yang besar pula seperti materi pembelajaran tidak sepenuhnya diterima dan
dipahami, tugas piket kebersihan tidak ditunaikan sehingga akan muncul
dampak-dampak lainnya. Kesepakatan kelas merupakan komitmen bersama antara
murid dengan guru dan murid dengan murid untuk dilaksanakan serta memiliki
konsekuensi jika ditinggalkan.
Ada satu komitmen bersama yang menjadi kesepakatan kelas sangat
berbeda dan unik pada tahun pembelajaran ini yaitu posisi Ketua Kelas diduduki
oleh murid yang memiliki nilai rata-rata tertinggi di antara murid lainnya di
kelas. Dan sebaliknya jika nilai turun atau terlampaui oleh lainnya maka ketua
kelas diganti. Penetapan ketua kelas dilaksanakan sesuai dengan hasil belajar
ujian tengah maupun akahir semester. Maka pada awal tahun pembelajaran ini
nilai akhir semester genap kenaikan kelas V dijadikan penilaian siapa yang akan
menduduki posisi ketua kelas. Dan nanti akan dilaksanakan kembali setelah ujian
tengah semester ganjil. Maka akan terjadi 3 kali penetapan ketua kelas, sebab
SD Negeri 1 Gerung Utara setiap selesai mengadakan ujian tengah dan akhir
semester langsung memberikan laporan kepada orang tua wali murid dalam bentuk
Rapor sehingga ada 2 rapor tengah semester dan 2 rapor akhir semester.
Pada kesempatan pertama berdasarkan nilai rata-rata tertinggi
kenaikan kelas VI dimiliki oleh Ni Putu Ayu Aprillya Putri maka dialah yang
menjadi ketua kelas. Dan di SD Negeri 1 Gerung Utara, menjadi ketua kelas
adalah hal yang sangat bergengsi dan menarik. Tidak hanya di antar murid
melainkan di antar orang tua/wali para murid juga.
Setelah kegiatan ujian tengah semester ganjil tahun pembelajaran 2021-2022 dilaksanakan dan pembagian rapornya pada tanggal 20 September 2021.
Maka akan didapatkan apakah ketua kelas akan bertahan atau diganti sesuai nilai yang diperolehnya. Setelah pembagian rapor didapat bahwa Ni Putu Ayu Aprillya Putri memperoleh nilai yang dilampaui oleh teman lainnya. Artinya bahwa dia tidak lagi menjadi ketua kelas pada berikutnya dan terganti oleh teman lainnya yang lebih tinggi. Di sinilah saya sebagai wali kelas dan pemimpin pembelajaran mengalami dilemma etika yaitu antar menetapkan Ni Luh Putu Aprillya Putri sebagai ketua kelas karena etos kerjanya yang sudah teruji dan sangat baik dengan mengkonstruksi kembali komitmen yang menjadi kesepakatan kelas atau menggantinya sesuai komitmen kelas bersama sebelumnya.
2. Alasan mengapa melakukan aksi tersebut
Ni Putu Ayu Aprillya Putri menjadi ketua kelas VI/A sangat
bertanggung jawab dan berdedikasi. Ia selalu berkoordinasi dengan para pejabat
kelas lainnya. Dan di antara idenya adalah untuk pemimpi barisan dan do’a
sebelum belajar dipimpin secara bergiliran oleh murid dan tidak hanya ketua
kelas sehingga semua merasakan tugas itu. Teman-temannya mengikuti arahannya
dengan baik seperti menjaga kebersihan dan kerapian kelas bahkan hampir
tidak ada kasus seperti perkelahian atau kelas gaduh. Di bawah kepemimpinanya
kelas menjadi aman, nyaman dan kondusif. Namun setelah pembagian rapor ujian
tengah semester dan ia memperoleh nilai yang dilampaui teman lainnya menjadikan
saya berpikir keras dan menimbang perasaan saya sebagai wali kelas pemimpin
pembelajaran.
Dengan prestasi dan dedikasinya sebagai ketua kelas yang sangat
baik selama ini menjadika saya berat menggantinya hanya dikarenakan nilainya
yang turun adalah benar sedangkan teman-temanya yang lain juga memiliki
hak yang sama untuk bisa menjadi ketua kelas berdasarkan nilainya yang
tertinggi adalah benar ( Individu vs Kelompok). Demikian juga begitu
besar rasa kasihan saya untuk memberhentikan Ni Putu Ayu Aprillya Putri menjadi
ketua kelas dengan mempertimbangkan kondisi psikisnya yang bisa jadi akan droup
atau down namun teman murid lainnya juga memiliki hak yang sama untuk menjadi
ketua kelas adalah benar (rasa keadilan lawan rasa kasihan).
Pengambilan keputusan adalah melanjutkan komitmen bersama dalam
bentuk kesepakatan kelas dengan memberikan Putri pengertian untuk bisa menerima
keadaan.
Dalam pengambilan keputusan ini mempertimbangkan opsi trilema
yakni memberikan pelayanan coaching untuk Putri di sekolah kelas waktu senggang
ketika nilainya turun guna belajar lebih giat lagi dan mengetahui serta
memahami kondisinya sehingga akan menjadi lebih kuat menerima keadaan yaitu
tergesernya dari posisi ketua kelas.
Keputusan ini diambil berdasarkan diskusi panjang dengan Ibu Kepala Sekolah dan teman
teman guru di ruang guru sehingga mereka pun memberikan masukan masukan yang
sama tentang pengambilan keputusan yang saya ambil untuk kasus Putri sehingga
mereka mendukung apa yang saya putuskan.
3. Hasil Aksi Nyata yang dilakukan
Aksi nyata yang saya lakukan ini membuahkan hasil yang sangat memuaskan bagi Putri khususnya dan semua murid pada umumnya. Dengan keputusan ini menunjukkan akan makna sebuah komitmen dan kesepakatan yang harus dijaga dan diindahkan, demikian juga nilai keadilan dan kepentingan bersama yang mesti selalu dijunjung tinggi.
Sedangkan bagi putri sendiri dari keputusan saya ini ia menjadi anak yang tegar
dan termotivasi untuk lebih giat belajar. Dan terlebih saya sebagai pemimpin
pembelajaran menjadi plong setelah mengambil keputusan ini dari yang saya alami
sebelumnya yang begitu membingungkan dan mencemaskan.
Pelayanan
coaching untuk Putri di kelas waktu senggang dapat mendalami mengapa nilainya
turun. Dan ia bercerita bahwa akhir-akhir ini jarang belajar mengulangi materi
di rumah karena sebagian besar waktunya membantu ibu menjaga adiknya. Dalam
cosching tersebut Putri menemukan jalan keluarnya yaitu mengusulkan kepada
orang tuanya menyewa baby sister sehingga ia tidak banyak waktunya yang habis
menjaga adik dan bisa belajar sepenuhnya. Diyakinkan oleh putrid solusi
tersebut berani dia sampaikan kepada orang tuanya secepatnya.
Penerapan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan
pada studi kasus ini;
a. Nilai-nilai yang saling bertentangan dalam studi
kasus tersebut adalah nilai individu dan kelompok serta nilaikeadilan dengan rasa
kasihan.
b Pihak yang terlibat dalam situasi tersebut
adalah Ni Putu Ayu Aprillya Putri, Teman Sejawat, dan saya sendiri selaku
CGP.
c. Fakta-fakta yang relevan dengan situasi tersebut
antara lain : Putri pernah memperoleh nilai tertinggi pada semester genap
kelas 5, Putri adalah ketua kelas yang bertanggung jawab dan berdedikasi, sebagian
besar waktunya menjaga adik di rumah.
d. Mari kita lakukan pengujian benar atau salah
terhadap situasi tersebut.
· Dalam situasi tersebut tidak ada aspek pelanggaran
aturan sekolah.
· Dalam kasus tersebut tidak ada pelanggaran
peraturan/kode etik profesi
· Berdasarkan perasaan dan intuisi saya, dalam kasus ini saya akan membantu Putri keluar dari kondisi frustasi, down dan goncangan psikolognya lewat teknik Coaching dan membantu Putri agar bisa menerima dan memahami kondisinya.
· Kemungkinan keputusan yang akan diambil oleh
panutan/idola saya dalam situasi ini adalah sama dengan apa yang
saya lakukan, yaitu memutuskan untuk melaksanakan kesepakatan kelas atau komitmen
bersama.
e. Paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika ini
adalah paradigma Individu lawan kelompok dan paradigma keadilan vs rasa
kasihan.
f. Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, Prinsip yang
saya gunakan adalah prinsip Berpikir Berbasis Peraturan Peduli (Rule-Based
Thinking).
g. Ada sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya untuk menyelesaikan masalah ini (Investigasi Opsi Trilemma) yaitu saya memberikan pelayanan coaching untuk menggali akar masalahnya yaitu nilainya yang turun. videonya silakan buka link berikut https://youtu.be/FE5t5us1k3A
h. Keputusan yang akan saya ambil yaitu saya akan tetap menetapkan sebagai ketua kelas baru adalah murid yang memperoleh nilai tertinggi.
i. Keputusan yang saya buat sudah tepat karena
rasa sudah berkonsultasi dengan kepala sekolah dan rekan rekan yang lain, dan Putri
pun menerima dengan lapang dada.
B. Feeling
Saya merasakan lega karena bisa mengambil keputusan yang memiliki
dasar seperti tersebut di atas. Dan saya meyakini bahwa keputusan yang saya
ambil memiliki banyak dampak positif baik bagi Ni Luh Aprillya Putri maupun murid
lainnya bahkan kita semua. Serta dari kegiatan coaching maka Putri bisa
menyadari sebab kejadian menurunnya nilai yang ia peroleh dan dapat mengambil
jalan keluar untuk mengatasinya.
Pengetahuan dan
pemahaman akan 4 (empat) paradigma pengambilan keputusan, 3 (tiga) basis
berpikir dalam membuat keputusan dan 9 (Sembilan) langkah pengambilan keputusan
sangat membantu saya dalam menyelesaikan setiap masalah yang ada.
Saya menjadi lebih percaya diri dalam mengambil keputusan dengan
memahami konsep 349 tersebut sebagai pemimpin pembelajaran.
C. Finding
Setiap
masalah bisa diselesaikan melalui komunikasi yang baik dan sebaliknya masalah
akan muncul dengan tidak terjalinnya komunikasi. Hal lain adalah kita mesti
memegang komitmen sebagai pemimpin dan yang dipimpin bukan mengedapankan
kepentingan dan perasaan sehingga bisa membentuk karakter murid yang mulia
bahagia dan selamat sebagai manusia individu maupun anggota masyarakat.
D. Future
Setelah mengalami keadaan dilema etika seperti tersebut di atas maka ke depannya saya hendaknya lebih memperhatikan usul saran dan harapan murid yang akan dijadikan kesepakatan kelas dan belajar lebih komitmen atas kesepakatan tersebut.
Kedua melaksanakanpelayanan Coaching lebih awal setelah tampak indikasi masalah pada murid. Selanjutnya
saya akan memedomani 3 Prinsip, 4 Paradigma dan 9 langkah dalam mengambil
keputusan sebagai pemimpin pembelajaran sehingga terwujud merdeka belajar yang
melahirkan profil pelajar pancasila.
Luarbiasa pak 💪
BalasHapusKeren
BalasHapus